Arsip untuk 'Cerpen'Kategori
31/03/2009
Cerpen Putu Wijaya
Seorang perempuan muda bertanya kepada ibunya.
Ibu, lelaki sejati itu seperti apa?
Ibunya terkejut. Ia memandang takjub pada anak yang di luar pengamatannya sudah menjadi gadis jelita itu. Terpesona, karena waktu tak mau menunggu. Rasanya baru kemarin anak itu masih ngompol di sampingnya sehingga kasur berbau pesing. Tiba-tiba saja kini ia sudah menjadi perempuan yang punya banyak pertanyaan. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Tinggalkan sebuah Komentar »
Tags: Gadis, Ibu, Jelita, Ngompol, Sejati
31/03/2009
Diceritakan oleh Maha Guru Ching Hai
Pada suatu ketika, ada seorang pengemis, dan di kota kediamannya hiduplah seorang jutawan. Tetapi orang itu sangat pelit sekali! Apapun yang dia peroleh, dia masukkan ke dalam lemari atau menggali lubang di dalam tanah dan disembunyikan. Tidak seorang pun, bahkan dirinya (gelak tawa), mengetahui dimana adanya. Dengan cara ini, dia tidak harus mengeluarkan uang! Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | 2 Komentar »
Tags: Jutawan, Pelit, Pengemis, Uang
31/03/2009
Cerpen Karya Veronica
Mimpi-mimpiku semakin buruk saja akhir-akhir ini. Aku tahu hal itu karena beban
pikiranku sendiri, dan kerinduanku yang dalam pada anakku, anak yang tak pernah
kutahu di mana sekarang dia berada. Anakku yang semata wayang, anakku yang tak
pernah kutahu bagaimana rupanya, siapa namanya, dan bagimana keadaan dia kini. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Tinggalkan sebuah Komentar »
Tags: Ayah, Buruk, Kerinduan, Mimpi, Pencarian, Semata Wayang
31/03/2009
Cerpen Karya Eka Kurniawan
AWALNYA Maharani berharap menemukan resep baru di musium kota, tapi inilah yang ditemuinya:
Pada suatu muasal yang jauh, sebuah kapal penangkap ikan Bugis remuk dihantam badai Atlantik. Satu-satunya yang tersisa, seorang lelaki muda dengan buntalan kulit berisi bumbu, diselamatkan kapal dagang Portugis. Mereka memberinya makanan Eropa yang serba tawar itu, membuatnya lari ke dapur dan menampilkan diri sepenuhnya sebagai penguasa mutlak bumbu-bumbuan. Malam itu seluruh penghuni kapal terbakar lidahnya, menemukan sensasi yang tak pernah ditemui bahkan sejak zaman nenek moyang mereka. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Tinggalkan sebuah Komentar »
Tags: Dapur, Kapal, Kutukan, Lidah, Sejarah, Terbakar
31/03/2009
Cerpen yanusa nugroho
Komidi putar itu masih saja berputar. Kuda-kuda kayu yang naik turun dengan anak-anak riang di punggungnya itu, sungguh-sungguh menciptakan warna-warni kegembiraan kanak-kanak. Kusaksikan anakku berada di antara mereka dengan sebaris giginya yang putih bersih, menebarkan kegembiraan hatinya. Seolah dia ingin membagi suka, dan melupakan duka. Mereka seakan berada di punggung kuda dongeng yang akan membawa mereka terbang ke awan-awan kebebasan tanpa batas. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Tinggalkan sebuah Komentar »
Tags: cerita, Cerpen, duka, Kanak-kanak, Kayu, Kuda, suka
31/03/2009
Cerpen Karya Ikranagara
“Eh, ternyata… ” kalimat kawanku itu terpotong oleh ketawanya sendiri. Dia memang kami kenal murah ketawa, bahkan dapat julukan “Berbakat untuk bahagia”. Betul, sepengetahuanku belum pernah sekali saja pun aku jumpai dia dalam keadaan tidak riang. Demikian juga ketika masuk ke tempat Panti Pijat Tunanetra tadi, wajahnya ceria dan lenggangnya enteng saja. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Tinggalkan sebuah Komentar »
Tags: cerita, Cerpen, Pijat, Senyum, Tunanetra
30/03/2009
Cerpen Karya Sunli Thomas Alexander
MASIH banyak orang yang diam-diam mencari kuda api. Aku tahu itu. Mereka bergerak seperti bayangan, bersilangan di tembok-tembok. Saling bercuriga dan tentu, rapat menyimpan rahasia. Siapa saja mereka? Di antara mereka sendiri pun, barangkali, tak saling mengenal selain hanya menduga-duga. Ah, kuda api, kuda sihiran! Kuda pejantan itu, konon, seluruh bulunya berwarna merah laksana api menyala, dengan sulai bagai terbakar…. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Tinggalkan sebuah Komentar »
Tags: Api, Bulu, Kuda, Pejantan, Rahasia, Sihir, Tembok
30/03/2009
Alkisah Sebulir beras dilahirkan di dunia…
Inilah kisahnya…
Bersama saudara-saudara lainnya dalam sebatang padi, lahirlah sebulir beras kecil di daerah Karawang, Jawa Barat. Untuk memudahkan, kita sebut saja nama si bulir beras ini Beka (Beras Karawang). Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Tinggalkan sebuah Komentar »
Tags: bangsawan, beras, karawang, kisah, lahir, nasi, nikmat, padi, unggul