1. BERIMAN DAN BERSIKAP KEPADA PARA RASUL
Rasul secara bahasa berarti utusan. Menurut istilah, rasul adalah orang yang diberi wahyu oleh Allah berupa suatu syari’at tertentu dan diperintahkan menyampaikan wahyu itu kepada umatnya. Beriman kepada rasul hukumnya wajib. Sebagaimana firman Allah, “Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya, … (Al Baqarah: 285) Jumlah rasul Allah banyak sekali. Tidak ada seorangpun yang mengetahuinya secara pasti, kecuali Allah Ta’ala. Rasul-rasul Allah yang wajib kita imani berjumlah 25 rasul sesuai yang tercantum di dalam Al-Qur’an. Mereka itu adalah:
1. Adam AS 6. Ibrahim AS 11. Yusuf AS 16. Musa AS 21. Sulaiman AS
2. Idris AS 7. Luth AS 12. Ayub AS 17. Harun AS 22. Zakariyya AS
3. Nuh AS 8. Isma’il AS. 13. Zulkifli AS 18. Ilyas AS 23. Yahya AS
4. Hud AS 9. Ishaq AS 14. Su’aib AS 19. Ilyasa AS 24. Isa AS
5. Sholih AS 10. Yaqub AS 15. Yunus AS 20. Daud AS 25.Muhammad SAW
Bagaimana cara mengimani dan bersikap kepada para rasul tersebut ? Ayo kita ikuti tuntunan yang diberikan oleh Allah dalam Al Qur’an berikut ini !
1. Tidak boleh membedakan antara rasul yang satu dengan lainnya. Artinya kita wajib mengimani seluruh rasul sebagai utusan Allah. Selanjutnya kita meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul dan nabi terakhir sampai hari kiamat. Firman Allah: “Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’kub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya (Al Baqarah: 136)
2. Mengikuti ajaran Rasul. Menurut kamu ajaran nabi manakah yang harus kita ikuti sekarang? Benar sekali ! Kamu tahu alasannya, mengapa? Karena Nabi Muhammad SAW diutus untuk semua umat manusia. Sementara ajaran Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS tidak dapat lagi diikuti karena mereka hanya diutus untuk bani Israel dalam waktu tertentu.
2. BERSIKAP KEPADA RASULULLAH SAW
Muhammad SAW adalah hamba, nabi, rasul dan orang pilihan Allah di antara segenap makhluk. Rasulullah SAW adalah utusan Allah ke segenap makhluk, dari golongan jin dan manusia. Beliau adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahnya. Allah Ta’ala telah melapangkan dadanya, meninggikan sebutan untuknya, serta menjadikan rendah dan hina bagi orang yang melangar perintahnya. Oleh karena kemuliaan kedudukan Nabi di sisi Allah, sebagai umat Islam kita harus pandai dalam bermuamalah, berakhlaq dan bersikap kepada Rasulullah, di antaranya:
1. Mencintai Rasulullah SAW melebihi cintanya kepada diri sendiri, harta benda, anak, keluarga, saudara, teman dan seluruh umat manusia. Mencintai Rasul mengharuskan adanya pengagungan, ketundukan dan keteladanan kepadanya serta mengagungkan sunnah-sunnahnya. Rasululah SAW bersabda: “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan segenap manusia.” (HR. Bukhori Muslim)
2. Mentaati seluruh perintah dan menjauhi larangannya. Kita harus melaksanakan sunnah-sunnah Rasul sesuai kemampuan kita. Kita mentaati karena Allah sendiri yang memerintahkan umat manusia untuk mentaati Rasulullah. Allah juga berfirman, “Dan tiadalah yang diucapkan (oleh Nabi) itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An Najm: 3-4)
3. Bersholawat dan mendo’akan keselamatan atas Rasulullah Saw. Sungguh, alangkah sombong dan egoisnya manusia jika tidak pernah atau jarang bersholawat atas Nabi. Bukankah Allah Ta’ala yang telah menciptakan semua makhluk dan para malaikat-Nya telah bersholawat kepadanya serta memerintahkan para hambanya untuk bersholawat kepada Rasulullah Saw.
Diantara manfaat bersholawat atas nabi adalah:
a. Bersholawat merupakan bentuk ketaatan kepada perintah Allah.
b. Mendapatkan sepuluh kali sholawat (do’a keselamatan) dari Allah bagi yang bersholawat sekali atas Rasulullah Saw.
c. Diharapkan do’a terkabul jika didahului dengan sholawat.
d. Sholawat merupakan salah satu sebab mendapatkan syafaat Rasulullah, tentunya setelah beliau mendapatkan izin dari Allah, Dzat Pemberi syafaat sesungguhnya.
e. Sholawat merupakan salah satu sebab diampuninya dosa-dosa.
4. Memuji Rasulullah Saw. dengan pujian yang baik dan tidak berlebih-lebihan hingga melampau batas. Allah berfirman, “Janganlah kalian melampaui batas dalam agamamu. (An Nisa:171). Tidak dibenarkan memuji Rasulullah dengan kata-kata seperti; sayyid (penghulu) kami, engkau adalah orang terbaik di antara kami, orang yang paling agung di antara kami, walaupun sesungguhnya Muhammad adalah makhluk yang yang paling agung secara mutlak. Demikian ini untuk menjaga kemurnian tauhid. Tidak dibenarkan mengkhususkan waktu dan cara tertentu dalam memuji beliau kecuali berdasarkan dalil shohih dari Al Qur’an dan As Sunnah. Akan tetapi pujilah beliau sebagaimana Allah memujinya sebagai hamba, nabi dan rasul Allah. Sebagai konsekuensinya haram meremehkan, menghujat, mengejek, menjelek-jelekkan, apalagi menghina dan mencela Rasulullah.
5. Menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai idola, figur, panutan dan suri teladan terbaik yang harus kita teladani sepanjang zaman. Kita harus meneladani Rasulullah dengan jalan mengikuti ucapan, perbuatan, sifat, prilaku, watak dan semua keputusannya. Kita berusaha untuk berakhlak seperti akhlaq Rasulullah sesuai dengan kemampuan kita. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasululah suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat ) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al Ahzab: 21)
6. Tidak meninggikan suara melebihi suara Nabi dan tidak mengeraskan suara di hadapan Rasulullah. Demikian karena Allah berfirman, “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian yang lain, supaya tidak terhapus amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. (Al Hujurat: 2)
7. Memusyawarahkan segala urusan agama kepada Nabi Muhammad SAW jika saling bertentangan. Sebagai konsekuensinya kita harus mendahulukan sabda-sabda beliau atas semua ucapan makhluk; sahabat, imam madzhab, ulama, raja, presiden, kiyai, guru, orang tua dan lain-lain, tentunya setelah firman Allah.
8. Menghidupkan sunnah Nabi baik lahir maupun bathin, dan menyebarkan agama yang dibawa oleh Rasulullah, serta memperjuangkannya dengan hati, lisan dan tangan. Demikian ini agar agama Islam tetap tersampaikan di tengah-tengah umat manusia dan berjaya atas agama lain.